Rangkuman Joker dari Sudut Pandang Psikologi

Film "Joker" karya Todd Phillips menampilkan kisah tragis Arthur Fleck, seorang pria dengan gangguan mental yang mengalami transformasi menjadi Joker, ikon kejahatan dalam dunia DC. Dari sudut pandang psikologi, film ini memberikan pandangan mendalam tentang berbagai aspek kesehatan mental dan dampak trauma masa kecil.


Berikut adalah beberapa dampak yang diterima oleh karakter utama yang ditampilkan sepanjang film.

Pseudobulbar Affect dan Cedera Otak Traumatis

Arthur Fleck diperlihatkan mengalami gejala pseudobulbar affect, suatu kondisi yang ditandai dengan episode tawa atau tangis yang tidak terkendali dan tidak sesuai dengan suasana hati sebenarnya. Kondisi ini sering kali disebabkan oleh cedera otak traumatis (TBI), yang dialami Arthur ketika masih kecil akibat perlakuan tindak kekerasan dari ayah tirinya. TBI diketahui meningkatkan risiko gangguan mood, perubahan kepribadian, serta penyalahgunaan zat (Cambridge University Press & Assessment).
 

Gangguan Kepribadian

Arthur menunjukkan ciri-ciri beberapa gangguan kepribadian. Dia memiliki ciri narsistik, seperti keinginan besar untuk mendapat perhatian dan pengakuan publik. Selain itu, Arthur juga menunjukkan karakteristik psikopatik, seperti kurangnya empati terhadap orang lain dan kemampuan untuk melakukan kekerasan tanpa merasa bersalah. Walaupun demikian, dia tidak menunjukkan gejala gangguan psikotik seperti halusinasi atau delusi yang khas dari skizofrenia (Cambridge University Press & Assessment) (Welldoing). 

Pengaruh Trauma Masa Kecil

Arthur mengalami pelecehan fisik serta batin yang parah selama masa kecilnya. Ibunya yang delusional dan tidak stabil secara mental mengabaikan penderitaan Arthur, menciptakan ambiguitas dalam diri Arthur antara dunia batinnya yang penuh dengan penderitaan dan dunia luarnya yang terlihat bahagia. Trauma masa kecil ini yang kemudian sangat mempengaruhi perkembangan psikologis dan emosional Arthur, dan berkontribusi pada gangguan mental yang dialaminya di masa dewasa (Psychology Today).
 

Stigma Kesehatan Mental

Film "Joker" juga mengangkat isu penting mengenai stigma yang dihadapi oleh orang dengan gangguan mental. Representasi Arthur yang berubah menjadi sosok penuh kekerasan dianggap memperkuat stereotip negatif bahwa orang dengan masalah kesehatan mental cenderung berbahaya. Namun, dalam kenyataannya, orang dengan gangguan mental lebih sering menjadi korban kekerasan daripada pelakunya. Film ini mengundang diskusi tentang bagaimana masyarakat memperlakukan dan mendukung orang dengan gangguan mental (Welldoing). 

Ambiguitas antara Realitas dan Delusi

Arthur sering mengalami kesulitan membedakan antara realitas dan delusi. Salah satu contohnya seperti hubungan romantisnya dengan tetangganya ternyata hanyalah imajinasinya. Ketidakmampuan Arthur untuk membedakan kenyataan dan halusinasi menambah kompleksitas karakternya dan memperlihatkan bagaimana delusi bisa menjadi mekanisme pertahanan bagi orang yang mengalami trauma berat (Welldoing).

Konklusi

"Joker" adalah film yang sangat kompleks dan cukup menggugah pikiran, yang mengeksplorasi berbagai aspek psikologis dari karakter utamanya. Dengan menggambarkan perjalanan Arthur Fleck, film ini menyoroti pentingnya memahami dan juga mendukung orang dengan gangguan mental, serta mengkritisi stigma yang sering melekat pada mereka. Film ini juga menunjukkan bagaimana trauma masa kecil dan lingkungan yang tidak mendukung dapat berkontribusi pada perkembangan gangguan mental yang serius.
Rangkuman Joker dari Sudut Pandang Psikologi Rangkuman Joker dari Sudut Pandang Psikologi Reviewed by Admin on Mei 14, 2024 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.